Showing posts with label quantum learning. Show all posts
Showing posts with label quantum learning. Show all posts

Tuesday, September 08, 2009

SIKAP TUBUH DALAM KELAS

Beberapa siswa pernah mengeluh pada saya bahwa mereka sering merasa mengantuk di kelas. Sudah cuci mukapun masih tetap mengantuk. Ada juga yang kelihatannya memperhatikan penjelasan guru, menatap wajah guru, tapi setelah selesai pelajaran tidak ingat sedikitpun tentang penjelasan guru. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Bagaimana mengatasinya ?

Ada beberapa kemungkinan tentang hal ini. Salah satunya adalah posisi tubuh selama di kelas. Tahukah Anda bahwa antara tubuh dan pikiran ternyata saling berhubungan ? Misalnya saja pada waktu tubuh kita mengambil posisi leyeh-leyeh (seperti putri duyung) maka secara tidak sadar kita mengirim signal ke otak kita untuk istirahat juga. Akibatnya kita akan segera merasa mengantuk dan otak akan shut-down sehingga tidak heran kalau kita pada akhirnya tidak mengerti isi pelajaran yang baru saja disampaikan.
Mengingat adanya mind and body connection inilah maka di dalam kelas-kelas quantum learning, sikap tubuh selama berada di kelas menjadi hal yang betul-betul diperhatikan oleh pengajar maupun siswa. Lalu bagaimana sikap tubuh ideal di dalam kelas ?

Quantum Learning memperkenalkan sebuah cara yang dapat disingkat dengan kata TEGAP (Tegak, Eksplorasi, Gaul dengan guru, Anggukan kepala, Posisi condong).

Tegak
Usahakan posisi tubuh Anda tegak, tidak bersandar pada kursi. Juga kaki tidak diselonjorkan. Dengan mengambil posisi seperti ini, tubuh Anda mengatakan pada otak untuk berjaga (alert), sehingga tidak akan mengantuk.Jika ada meja, letakkan tangan Anda di meja. Wajah menatap kepada pengajar.

Eksplorasi

Salah satu hal yang bisa membuat Anda tetap fokus pada pelajaran adalah dengan mengajukan pertanyaan. Jika ada yang membingungkan dari penjelasan pengajar, silahkan angkat tangan Anda dan minta penjelasan. Beberapa orang bahkan menggunakan teknik bertanya ini untuk menghindari ngantuk karena tidak adanya variasi dari pengajar. Tentu saja Anda tidak disarankan terlalu sering bertanya karena bisa mengganggu jalannya pelajaran.


Gaul dengan guru

Relasi dengan guru tidak hanya dibangun di kelas. Di luar kelas pun Anda dapat menanyakan hal-hal yang belum Anda pahami dari pelajaran yang. Untuk itu murid-murid disarankan untuk mau bergaul dengan guru, dalam arti mau melakukan tanya jawab dengan guru di luar kelas. Hal ini bukan berarti anda cari-muka dari guru. Seringkali guru tidak cukup punya waktu untuk menerangkan secara detail isi dari sebuah pelajaran, karena batasan waktu mengajar di sekolah. Anda bisa mencari kejelasan di lain waktu.


Anggukan kepala
Pada waktu Anda menyimak penjelasan guru, jangan lupa untuk menganggukan kepala sekali-sekali.Hal ini akan membuat guru termotivasi karena mendapat respons yang positif dari anak didiknya. Selain itu dengan melakukan anggukan kepala, Anda juga mengatakan kepada tubuh Anda mengatakan kepada otak Anda bahwa Anda mengerti penjelasan yang diberikan.

Posisi condong
Pada waktu Anda duduk di kursi, setelah badan Anda dalam posisi tegak, maka Anda disarankan untuk membuat badan Anda dalam posisi agak condong ke depan. Jadi tidak sekedar tegak, tapi condong ke arah depan. Hal ini akan membuat tubuh mengirim sinyal ke otak bahwa Anda sedang ingin menyimak penjelasan, dan butuh konsentrasi. Akibatnya otak akan waspada dan membantu Anda untuk menyimak penjelasan guru.

TEGAP sudah diterapkan oleh ribuan murid-murid yang pernah mendapat pengajaran Quantum Learning dan mereka mengatakan memang perbedaannya banyak sekali.
Jika Anda ingin berhasil mempertahankan konsentrasi di kelas, maka teknik TEGAP ini layak untuk dicoba.

Selamat mencoba.

Keuntungan Tuan Rumah

Pernah lihat pertandingan olahraga antara tim tuan rumah melawan tim tandang ?
Saya beberapa kali menyaksikan pertandingan seperti itu. Misalnya waktu pertandingan bulutangkis Thomas Cup di Jakarta antara Indonesia melawan China. Atau pertandingan sepakbola MU di Old Trafford antara MU melawan Chelsea. Entah mengapa, biasanya tim tuan rumah merasa lebih percaya diri dan lebih sering menang di kandang sendiri daripada tim tandang.

Tim tuan rumah umumnya mendapat dukungan yang luar biasa dari penontonnya. Dukungan diperoleh dari sejumlah tradisi-tradisi yang memang dikembangkan. Misalnya dengan nyanyian, suara tepukan, teriakan, dsb. Pemain tim tuan rumah juga lebih mengenali setiap titik di lapangan bertandingnya. Mereka tahu area mana yang jelek, ubin mana yang pecah, rumput mana yang gundul, dsb. Hal ini membuat mereka merasa lebih aman waktu bertanding, apalagi karena bermain di area sendiri.

Jadi secara umum bisa disimpulkan bahwa jika sebuah tim berada di kandangnya sendiri, maka performance mereka umumnya akan lebih baik. Mereka akan lebih percaya diri dan kans untuk menang menjadi lebih besar. Hal ini yang kemudian dikenal dengan istilah Keuntungan Tuan Rumah (Homecourt Advantage).

Dari pengamatan ini, kita bisa menemukan beberapa insight menarik yang bisa kita bawa ke dalam ruang belajar kita. Bayangkan jika peserta didik datang ke kelas kita bertingkah laku seperti tim tandang. Mereka merasa tidak nyaman dengan kelasnya, tidak mendapat dukungan, tidak merasa aman, dsb. Dalam kondisi ini tentu saja performance mereka dalam belajar tidak akan optimal.

Tapi bayangkan jika para peserta didik kita merasa seperti berada di rumahnya sendiri. Mereka akan bertingkah laku seperti tim tuan rumah. Mereka merasa mendapat dukungan, merasa aman, dan merasa menjadi anggota yang diterima di kelasnya. Dengan kondisi seperti ini, maka mereka akan dapat menampilkan performancenya dalam belajar secara optimal.

Sebagai pengajar, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menciptakan suasana yang bisa membuat para peserta didik merasa di rumahnya sendiri. Dengan demikian, para peserta didik akan memperoleh sejumlah keuntungan dari situasi ini. Beberapa cara yang disarankan dalam quantum teaching misalnya : membangun tradisi-tradisi di kelas untuk membuat peserta merasa diterima di kelasnya (muncul sense of belonging), gunakan kata-kata positif yang mendukung dan tidak menyalahkan peserta didik. Ingat bahwa kesalahan adalah awal dari proses belajar. Selain itu, pengajar juga perlu menciptakan suasana aman (secara fisik dan psikologis) bagi peserta didik, sehingga mereka tidak memiliki kecemasan dalam belajar. Dengan demikian, diharapkan mereka bisa belajar secara optimal.

Bagaimana dengan Anda sendiri. Apa yang akan Anda lakukan untuk menumbuhkan perasaan berada di rumah sendiri bagi para peserta didik Anda ?
(PEL/BH)

Wednesday, March 18, 2009

Mari Membantu Anak Mengatasi Kemalasan

Rabu 18 Maret 2009

Kalau Anda punya anak, pasti pernah mengalami situasi dimana anak-anak mengajukan berbagai macam alasan untuk menghindari ajakan Anda mengerjakan sesuatu, khususnya dalam belajar. Beragam keluhan diajukan. Mulai dari badan yang lemas, tidak mengerti pelajarannya, masih kepingin main, wah pokoknya macam-macam dech. Menghadapi situasi seperti itu biasanya yang langsung muncul di kepala para orangtua adalah anak saya malas.

Atas nama masa depan anak, kedisiplinan sampai dengan harga diri, maka orangtua mulai mengeluarkan jurus-jurusnya untuk membuat anak mau mengatasi keengganannya itu. Dimulai dengan membicarakannya secara baik-baik kepada anak, dan jika ternyata tidak mempan juga, terpaksa keluarlah jurus pamungkas. Namanya jurus Orangtua Berkuasa. Pada tahap ini orangtua memarahi anak dan memaksa anak untuk belajar. Orangtua yang sudah lelah dengan beban pekerjaan kantor menjadi cepat sekali naik darah. Ancaman biasanya menyertai situasi ini. Awas, kalau tidak buat PR, tidak dikasih uang jajan, atau nggak boleh main, atau nggak dibeliin mainan lagi, atau nggak dikasih pulsa lagi, dsb.

Di sisi lain anak juga punya pendapat sendiri. Mereka kehilangan motivasi untuk belajar karena memang sudah kehilangan minat pada pelajaran tersebut sejak awal. Banyak faktor yang membuat mereka seperti itu. Ada karena guru yang mengajar tidak enak, ada yang karena pelajaran tersebut kebanyakan aturannya, ribet, ada karena penyampaian pelajarannya nggak asyiik (ceramah satu arah), dan sebagainya. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sudah sangat tegang dan penuh konsentrasi di sekolah, sehingga kepingin melepaskan ketegangan dulu di rumah. Setelah itu baru belajar lagi. Tapi ada juga yang terus terang mengatakan bahwa program acara di televisi jauh lebih menarik daripada belajar. Main sama teman jauh lebih menyenangkan daripada belajar.

Pada titik inilah anak dan orangtua sering berkonflik. Anak merasa orangtua tidak memahami dirinya, sementara orangtua merasa anak kurang disiplin dan bermalas-malasan. Situasi bisa makin memburuk manakala ada pembanding (entah adik atau kakak yang lebih rajin) dan hasil rapor tidak memuaskan.

Kenapa Malas ?

Wah… seru ya … tapi nyeremin juga. Sebenarnya, apa sih yang membuat seorang anak tidak antusias untuk belajar ? Dari berbagai sumber diketahui ada faktor internal dan faktor eksternal yang bisa membuat seorang anak jadi terlihat malas. Faktor internal yang ada di dalam diri anak sendiri misalnya minat. Bisa jadi sejak awal anak memang tidak terlalu berminat pada angka dan lebih suka pada olahraga dan musik. Atau dia lebih berminat pada fisika daripada kimia. Faktor internal yang lain misalnya mood dan ritme biologis. Ritme biologis tiap orang memang berbeda-beda. Bisa terjadi bahwa ritme biologis anak tidak sama dengan ritme biologis orangtuanya. Jadi tidak pernah klop. Faktor internal lain yang bisa mempengaruhi adalah adanya perasaan tidak seimbang yang dirasakan oleh anak. Misalnya si anak merasa bahwa waktunya bersama orangtua sangat kurang karena orangtua sangat sibuk. Jadi mereka kadang-kadang menunda belajar sebagai salah satu cara untuk bisa berlama-lama dengan orang tuanya.

Faktor eksternal yang bisa membuat seorang anak malas melakukan sesuatu misalnya adalah ketiadaan role-model. Seorang anak bisa saja bertanya :

mengapa saya harus belajar, sementara kakak saya tidak ?

kenapa saya harus buat PR sementara anak tetangga bisa keluyuran ?

Dalam hal ini ketiadaan role-model lalu dikaitkan juga dengan gugatan terhadap rasa keadilan.

Faktor eksternal lain yang kerap disampaikan anak-anak adalah ketiadaan imbalan (reward). Dalam hal ini orangtua menganggap bahwa jika anak belajar, maka hal itu sudah sewajarnya. Kalau jadi anak, ya memang sudah seharusnya belajar. Akhirnya mereka tidak merasa perlu untuk memberikan penghargaan pada anak. Di sisi anak, mereka berharap ada perhatian dari orangtua bila mereka sudah tidak malas lagi. Karena tidak dapat, akhirnya kembali ke perilaku lama lama.

Ada juga anak yang menjadi malas karena obyek yang akan dipelajari memang sama sekali tidak menarik minatnya sejak awal. Ada anak yang sangat tidak berminat dengan pelajaran bahasa Indonesia. Dia merasa pelajaran ini sungguh menyusahkan karena untuk menjawab pertanyaan : Mengapa kita perlu memperhatikan lingkungan ? saja harus diawali dengan kata : Kita perlu memperhatikan lingkungan karena ….

Wah kalau hal yang harus dipelajari memang tidak menarik, susah juga ya.

Bagaimana Mengatasinya ?

Dari beberapa literatur tentang Belajar (learning) yang pernah saya baca, tampaknya masih ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh kita (para orangtua) untuk membantu anak mengatasi persoalan malasnya.

Beberapa yang dapat dilakukan adalah :

1. Penciptaan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan

Di era saat ini, rasanya sulit bisa mengharapkan anak-anak duduk tekun di belakang meja di rumahnya sambil belajar, latihan mengerjakan soal atau membuat PR. Suasana perlu dibuat agar lebih rileks dan dinamis, bukan kaku dan menegangkan.

2. Menata lingkungan fisik tempat belajar anak

Hal ini dapat dilakukan dengan memasang gambar warna-warni, tulisan-tulisan motivasional, menyediakan sarana untuk memutar musik, bahkan jika perlu kita dapat menggunakan aroma terapi (dengan wangi lemon) untuk membuat anak siap belajar

3. Bila ingin menyampaikan suatu materi, hendaknya para orangtua tidak langsung memberikan isi pelajarannya, tapi disarankan untuk menggunakan pendekatan belajar melalui pengalaman. Misal untuk mengenal jenis-jenis daun-daunan, bisa anak dibawa ke kebun dan diajak untuk mengenal daun-daun yang ada di kebun, minta mereka mengingatnya lalu menggambarkannya sendiri. Cara ini akan lebih menarik buat anak ketimbang ia harus memandangi buku di meja belajarnya.

4. Proses belajar tidak akan pernah bisa dilepaskan dari interaksi yang terjadi antara pengajar dengan yang belajar. Ciptakan relasi yang akrab dengan tetap menjaga respek kepada anak-anak kita. Tunjukkan bahwa berhasil atau gagal dia dalam proses belajarnya kita tetap menghargai usahanya untuk belajar. Berdialog lah dari hati-ke hati untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi dalam belajar dan bantu ia untuk menemukan jalan keluar bagi dirinya sendiri

5. Kenalilah anak Anda, mulai dari gaya belajarnya, ragam kecerdasannya, minatnya, dan lain-lain yang menurut Anda penting diketahui guna keberhasilan proses belajarnya.

Tips di atas disarikan dari materi pengajaran ala Quantum Learning. Riset di Amerika membuktikan bahwa pendekatan ini berhasil. Apakah ini juga bisa diterapkan di Indonesia ? Mari kita bersama-sama mencobanya. Selamat membantu anak untuk bisa mengucapkan selamat tinggal pada kemalasannya.

Salam.