Thursday, April 30, 2009

Olahraga dan Belajar

Ada beberapa orangtua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak gerak itu tidak baik. Ada juga yang mengatakan bahwa kegiatan olahraga sehabis jam sekolah akan membuat anak menjadi letih dan malas belajar. Akibatnya nilai pelajaran sekolahnya akan jelek. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh pemahaman yang belum tepat tentang kaitan olahraga dengan kejiwaan seseorang. Beberapa riset belakangan ini menunjukkan bahwa pepatah Men Sana in Corpore Sano (dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat) ternyata benar adanya. Selain itu juga diketahui bahwa kegiatan olahraga merupakan salah satu media yang bisa digunakan oleh orangtua untuk berkomunikasi dengan anaknya.

Masih ingat olahraga apa yang dulu Anda lakukan bersama teman-teman ? Ada yang berolahraga kasti, basket, sepakbola, badminton, pingpong dan lain-lainnya. Selain olahraga yang sungguh-sungguh, juga ada olahraga yang dikemas menjadi sebuah permainan. Misalnya tak benteng, tak kadal, main karet, galasin, panco, dsb. Masih ingat perasaan yang muncul pada waktu melakukan permainan tadi ? Apakah juga masih terbayang perdebatan yang kita lakukan dengan teman-teman dalam menegakkan aturan permainan ? Masih ingat bagaimana kita belajar memperbaiki kualitas permainan kita sehingga makin mahir ? Ya..dalam olahraga dan permainan pun tetap ada proses pembelajaran.

Secara fisiologis, otak membutuhkan supply darah dan oksigen untuk bekerja optimal. Olahraga (seperti aerobik) membantu memompa darah ke otak sehingga membawa nutrisi dan oksigen yang baik untuk mendukung proses kerja otak. Beberapa orang menyakini bahwa ada hubungan antara pikiran dan tubuh (mind and body connection). Hal ini juga terjadi dalam proses belajar. Dalam metode Quantum Learning dinyatakan bahwa semua proses belajar adalah STATE DEPENDENT (tergantung sikon pada diri seseorang). State seseorang dipengaruhi oleh tiga aspek yaitu : mental, emosional dan fisik. Olahraga bisa mempengaruhi 3 aspek tersebut sehingga mempengaruhi state seseorang dan pada akhirnya mempengaruhi belajarnya.

Apa saja manfaat olahraga?

Charles Hillman, dari Universitas Illinois, AS, membuktikan bahwa ada kaitan antara aktivitas fisik dan kerja otak. Saya jadi teringat seorang teman yang pernah bilang : kalau tubuhmu tidak bergerak, otakmu tidak beranjak (keren yak). Charles menemkan bahwa mereka yang tubuhnya paling sehat punya otak paling bugar.

Penelitian lain menemukan bahwa anak dan remaja yang berolahraga dan belajar dengan baik, memiliki nilai akademis yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan aktivitas olahraga. Olahraga ternyata dapat meningkatkan daya kerja otak sehingga anak dan remaja menjadi lebih cerdas.

Hasil penelitian beberapa ilmuwan memperlihatkan bahwa orang-orang yang melakukan olahraga secara teratur memperlihatkan adanya pertumbuhan neuron syaraf baru pada otaknya. Sementara pada sel-sel syaraf tua akan membentuk jejaring (web) rapat dan saling terhubung sehingga membuat otak berjalan lebih cepat dan efisien

Olahraga juga ternyata menghalangi munculnya gangguan kognitif seperti: penyakit Alzheimer, Parkinson pada saat usia lanjut nanti.

Kalau melihat banyaknya manfaat seperti ini harusnya kita olahraga ya…tapi ya itu kok rasanya beraaaat banget …. Tapi kalau ada anak mungkin lebih semangat ya…

Sejak kapan anak dapat diperkenalkan kepada olahraga?

Beberapa ahli menyarankan untuk memperkenalkan olahraga pada anak sedini mungkin. Pilih jenis olahraga yang sesuai dengan tingkat usia anak, mulai dari yang individual dan sederhana dulu seperti senam-senam dengan lagu, main tendang bola, memasukkan bola ke keranjang, sampai yang lebih kompleks dan berkelompok badminton, basket, kasti, sepakbola, galasin, bentengan, dsb.

Bagaimana peranan orangtua dalam mengolahragakan anak ?

Agar anak mau berolahraga, pertama-tama buat anak senang berolahraga (mulai dari main tendang-tendangan bola, lihat pertandingan di TV, lihat film atau komik, dsb). Fasilitasi minat olahraga anak, sediakan beragam permainan atau membelikan peralatannya, memasukkan ke klub olahraga dll. Kegiatan ini dapat mengalihkan perhatian anak dari layar tv, bermain play station atau video games.

Penting juga bagi para orangtua untuk meluangkan waktu untuk bermain atau berolahraga bersama anak. Hal ini memang berat karena sebagai orangtua kadang-kadang kita kehabisan waktu dan tenaga karena urusan kantor dan urusan lainnya. Tapi kalau melihat manfaatnya, rasanya olahraga bersama anak cukup layak untuk dilakukan.

Dalam berolahraga bersama anak, ambillah peran sebagai coach (yang selalu memberikan support/semangat), atau penggembira (selalu berpartisipasi) dalam setiap kesempatan. Tidak perlu menghakimi anak atau menyalah-nyalahkan anak. Percayalah bahwa mereka bisa menemukan caranya sendiri yang benar untuk melakukan satu gerakan misalnya.

Dalam mengajari anak berolahraga, gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan mudah dimengerti anak. Saya pernah mencoba mengajarkan anak bagaimana melakukan serve pada permainan bulutangkis. Memberi instruksi pada anak ternyata sangat menantang lho….dan kalau tidak sabar anak bisa-bisa menolak untuk belajar permainan ini.

Pastikan bahwa kita memberi penghargaan atas partisipasi dan usaha anak dalam mencoba kegiatan baru. Hal ini penting untuk memupuk motivasinya dalam berolahraga. Menurut saya, unsur motivasi sangat penting dalam berolahraga. Terus terang kalau harus memilih menggerakkan tubuh atau tidur, pasti lebih banyak yang memilih tidur.

Karena tiap anak memang berbeda-beda, orangtua diharapkan tidak melakukan perbandingan antara anak dengan anak lain yang lebih hebat. Ada anak yang mungkin mahir dalam olahraga lari. Ia tidak perlu dibandingkan dengan anak lain yang jago berenang.

Pernah juga saya melihat orangtua yang memaki wasit dalam sebuah pertandingan basket di depan anak-anaknya. Tentunya hal ini bukan menjadi tujuan dari olahraga itu sendiri. Selain pengembangan fisik, olahraga juga perlu mempertimbangkan penanaman nilai pada anak. Salah satunya adalah nilai sprotivitas.

Pernah juga ada anak yang dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya setelah dan sepanjang permainan sepakbola. Anak dianggap tidak becus mengoper bola, mencetak gol dan sebagainya. Dalam hati saya bertanya-tanya, sebenarnya apa sih tujuan si Bapak memasukkan anaknya ke klub sepakbola ? Toh ini bukan klub profesional dan mereka masih anak-anak. Anak yang harusnya senang-senang dengan olahraganya malah jadi tertekan.

Wuih mudah-mudahan Anda tidak seperti itu.

Baiklah

Sudah terlalu lama saya duduk menulis nich..

Olahraga dulu ah….

Mariii….

Wednesday, April 15, 2009

Antara Orangtua, Anak dan Buku

Masih ingat buku apa yang paling berkesan untuk Anda ?

Saya masih ingat betapa saya sangat ingin berubah setelah membaca sebuah buku pelajaran (mata pelajaran PKK). Di situ ada seorang tokoh yang seusia dengan saya dan diceritakan sebagai anak yang rajin dan pintar. Bangun pagi, beresin tempat tidur, nyapu halaman, makan, sekolah, belajar, dan seterusnya. Pokoknya perfect banget dech ! Waktu itu saya sangat terinspirasi dan ingin meniru sang tokoh tersebut. Saya lalu mulai dengan berusaha bangun pagi dan selalu membereskan kamar serta menjaga kerapihan barang-barang. Orangtua sampai heran dengan perubahan itu.

Juga masih terbayang jelas di ingatan saya buku komik wayang yang dibelikan oleh orangtua saya. Pengarangnya RA Kosasih. Ceritanya mulai dari silsilah Pandawa sampai Perang Baratayudha, dan diakhiri dengan Pandawa Seda. Bahkan ada lanjutannya yaitu Parikesit. Dengan membaca cerita-cerita di buku itu, saya dan Bapak bisa berdiskusi. Mulai menanyakan senjata-senjata sakti para tokoh, membahas kelakuan para tokoh, sifat, sampai pada aplikasi sederhana dalam kehidupan (tentu saja untuk usia saya). Kalau sudah berbicara wayang, wah bisa panjang dan lama. I really loves wayang !

Sekarang saya menyadari bahwa sebuah buku bisa menjadi jembatan atau sarana untuk berkomunikasi dengan anak. Dalam posisi saya sebagai orangtua dari 3 anak saat ini, saya sadar betul tanggung jawab yang saya pikul tidaklah ringan. Apa yang saya lakukan terhadap anak saat ini akan menentukan bagaimana anak saya nanti memperlakukan cucu saya. Dan salah satu hal yang sangat saya pentingkan adalah penanaman nilai pada anak. Saya yakin bahwa kalau anak punya nilai yang sudah terinternalisasi dalam dirinya maka dia akan lebih survive nantinya.

Proses internalisasi biasanya dilakukan melalui diskusi, bincang-bincang atau aktivitas komunikasi interpersonal lainnya. Hal ini mau tidak mau membutuhkan sebuah sarana komunikasi. Dan saya kira buku bisa menjadi salah satu sarana atau jembatan untuk anak berkomunikasi dengan orangtuanya. Selain itu masih banyak lagi manfaat yang bisa dipetik dari sebuah buku, khususnya dalam proses tumbuh kembang anak.

Bagaimana buku bisa membantu proses pendampingan anak ?

Melalui buku orangtua dapat mengenalkan aspek-aspek pendidikan atau nilai-nilai tertentu pada anak, seperti: nilai-nilai baik dan jahat, nilai persahabatan, pantang menyerah, dsb. Misalnya dalam cerita Cinderela, kita diajarkan untuk tidak mudah putus asa, tetap punya harapan, dsb. Dalam kisah 5 Sekawan, tergambar dengan jelas soal persahabatan, bagaimana berpikir kreatif dan logis. Buku Laskar Pelangi juga mengedepankan nilai perjuangan, sementara kisah Harry Potter memaparkan nilai kebaikan selalu menang atas kejahatan, dst.

Buku juga bisa menjadi sarana pembentukan karakter anak. Melalui cerita yang dituturkan anak bisa punya model yang akan diteladani. Misal : ingin menjadi seperti Lintang yang gigih dalam berjuang, ingin seperti Senopati Pamungkas yang gagah berani, atau menjadi seperti Yudistira yang bijaksana. Wah macam-macam dech.

Buku bisa menjadi sarana membangun kedekatan emosional atau keakraban antara orangtua dan anak. Saya pernah lihat seorang ayah dengan anaknya cekikikan bareng baca komik Tintin, Asterix atau Smurf. Atau seorang ibu yang bercerita sangat seru dengan anaknya tentang kantong ajaibnya Doraemon. Bahkan ada ibu yang mengaku bahwa anaknya sudah berumur cukup besar, tetapi tetap minta dibacakan buku oleh orangtuanya (didongengkan).

Buku yang dibacakan orangtua (didongengkan) bisa menjadi sarana yang sangat baik untuk melatih daya imajinasi anak. Mulai dari membayangkan wajah tokoh Hagrid, membayangkan indahnya pemandangan puncak gunung di cerita Heidi, bagaimana bentuk rumah dari coklat dan biskuit Hanzel and Gretel…wah seruu banget dech.

Jika kita ingin menjadikan buku sebagai sarana komunikasi dengan anak, apa sih tantangannya ?

Nah ini dia. Ada anak-anak yang tidak tertarik dengan buku dan lebih suka liat televisi atau film. Alasan mereka sederhana. Tinggal duduk, lihat dan dengar sudah terhibur. Buku kadang-kadang harus mikir, konsentrasi, capek dech intinya. Jadi salah satu tantangannya adalah kita harus bersaing dengan media lain, seperti televisi, permainan PS, film DVD, dsb.

Untuk bisa memanfaatkan buku, orangtua mau tidak mau juga harus membaca bukunya. Berarti ini orangtua harus menyediakan waktu untuk membaca (setidak-tidaknya membaca referensinya), atau bisa juga mengandalkan memorinya (kalau dulu sudah pernah baca). Ini adalah tantangan lain yang dihadapi orangtua.

Untuk beberapa orangtua, harga buku tidak murah. Buku yang baik dan laku di pasaran biasanya harganya cukup mahal. Salah satu solusinya adalah mencari di pasar buku bekas atau menunggu waktu diskon tiba. Selain itu buku juga membutuhkan tempat penyimpanan (rak buku) yang juga perlu dipikirkan ketersediaan ruangan dan biayanya.

Kapan usia terbaik memperkenalkan buku ?

Sedini mungkin, usia setahun sudah dapat diperkenalkan buku, bahkan sejak masa kehamilan, ibu dapat mengajak berkomunikasi dengan bercerita kepada bayi yang ada dalam kandungan. Karena kordinasi motorik belum baik, berikan buku dari plastik (yang bisa dibawa mandi), atau buku yang kertasnya tebal sekali. Buku ini akan sulit dirusak oleh anak-anak seusia mereka. Usahakan pilih yang berwarna-warni.

Selain itu yang perlu juga diperhatikan oleh orangtua adalah jenis cerita apa yang akan diperdengarkan kepada anak terkait dengan usianya. Cerita yang kompleks dan panjang, serta mengandung banyak muatan emosi sebaiknya jangan diberikan pada anak-anak yang masih SD.

Pada usia dini (umur setahun hingga tiga tahun) anak-anak sudah dapat menangkap isi sebuah cerita. Pilihlah cerita yang tidak terlalu panjang, tidak terlalu kompleks, tapi menarik. Sebaiknya banyak gambarnya daripada teks. Misal : si Kancil, Petualangan Dora, dsb. Tentu saja yang harus membacakan isi cerita adalah orangtuanya.

Pada usia antara 3 hingga 6 tahun, anak sudah dapat distimulasi untuk melatih daya khayalnya melalui cerita. Usia ini sangat penuh dengan brbagai imajinasi (mereka kita mereka bisa terbang), dan penuh dengan berbagai kemungkinan tidak terbatas (mereka pikir merek bisa bicara dengan binatang atau bernapas di bawah laut seperti Putri Duyung). Mereka juga sudah mampu mencerna cerita yang agak panjang dengan sedikit muatan emosi. Cerita-cerita karangan Hans Christian Andersen boleh untuk diperkenalkan.

Apabila anak menginjak usia 7 tahun ke atas, orang tua sebaiknya menggalakkan anak untuk membaca sendiri cerita-cerita dalam buku, komik atau majalah kesukaannya. Mereka juga suka mendengarkan cerita masa lalu orangtua atau eyangnya. Remaja boleh baca novel dan buku-buku yang agak kompleks ceritanya, atau buku buku pengembangan pribadi, kesehatan, dsb.

Bagaimana cara menggunakan buku untuk berkomunikasi ?

Pertama-tama harus ditumbuhkan budaya menyukai buku di rumah. Ini penting untuk memulai sebuah kebiasaan bersama yaitu membaca. Kalau budaya ini sudah ada, maka baru buku bisa jadi sarana untuk berkomunikasi dengan anak. Caranya bisa dengan sediakan buku sebanyak mungkin, saring yang tepat untuk anak, pajang di tempat yang mudah diakses. Tunjukkan bahwa kita juga suka membaca apa saja, kapan saja. Jadikan buku sebagai hadiah ulang tahun. Kabulkan permintaan anak untuk beli buku daripada beli jajanan atau mainan

Setelah itu coba amati buku apa yang sering dibaca oleh anak kita. Pelajari sedikit. Baca buku itu secara mandiri atau waktu anak sedang membaca tanya-tanya pada dia. Dengan demikian kita mencoba membuka jalur komunikasi dengan dia melalui hal yang dia sukai. Hati-hati jangan sampai merusak mood membacanya.

Komunikasi melalui buku juga bisa dilakukan dengan membacakan buku pada anak (yang belum remaja) menjelang tidur. Juga dengan mendiskusikan isi buku pada anak, atau menebak akhir cerita bersama anak. Diskusi bisa tentang kelakuan tokoh, kepandaian si tokoh (misal : dalam kisah misteri da vinci code), sifatnya (baik tapi judes, lemah lembut tapi culas) dsb.

Jadi bagaimana, bersediakah Anda memanfaatkan buku untuk berkomunikasi dengan anak ?

Thursday, April 09, 2009

Remaja adalah ...

Kiriman dari seorang teman (thanks ya CC) tentang anak-anaknya yang mulai remaja. Sudah diadaptasi supaya lebih pas buat kita para orangtua. Baca ya…

Remaja adalah ….

Seseorang yang hanya sanggup menghabiskan waktu 10 menit untuk belajar matematika, tapi mampu bertahan lebih dari 10 jam untuk belajar tentang wajahnya

Seseorang yang bisa main komputer tanpa perlu diajarin, tapi tidak tahu cara merapihkan tempat tidur

Seseorang yang ribut terus dengan urusan berat badan, tapi sarapan pagi dengan coklat silver queen

Seseorang yang lupa buang sampah,tapi tidak pernah lupa nomor telpon temannya

Seseorang yang bisa dengar lagunya Chris Brown, Tpain, Beyonce dari jarak jauh sekali, tapi tidak dengar orangtuanya memanggil dari kamar sebelahnya.

Seseorang yang sangat tahu kapan liburan sekolah dan segala sesuatu yang membuat dia tidak perlu sekolah.

Seseorang yang sangat antusias dan penuh energi untuk main sama teman, tapi sering merasa terlalu lelah untuk belajar dan membereskan kamar.

Seseorang yang sering telat untuk makan, tapi selalu tepat waktu kalau janjian sama pacarnya

Seseorang yang hanya kenal 2 jenis musik : Loud and Very Loud

Tambahan :

Seseorang yang sering lupa dengan PR dan tugas sekolah, tapi bisa ingat syair lagu-lagu yang lagi hits.

Wednesday, April 08, 2009

Celoteh Anak

Ini adalah beberapa penggalan percakapan saya dengan beberapa anak-anak, termasuk di dalamnya anak saya sendiri. Mudah-mudahan anak Anda tidak ikutan dalam percakapan ini. Saya banyak belajar dari percakapan ini. Mudah-mudahan Anda juga.


Ingat : O untuk Orangtua ,dan A untuk Anak.

A : Pa, kenapa aku nggak bisa terbang ?

O : (dengan gaya senyum yakin) Karena kamu nggak punya sayap

Anak diam sebentar…Lalu tanya lagi.

A : Pa, kenapa aku nggak punya sayap ??

O : *&!##%$

O : Nak, coba kamu duduk yang manis. Nanti bisa diberhentiin pak Polisi

A : Mana ? Mana polisinya ? (pertanyaan ini diajukan terus sepanjang Pondok Kelapa ke BSD, sampai akhirnya polisinya ada)

O : Nah itu dia polisinya.

A : Ah aku nggak mau polisi yang pakai baju coklat itu, aku maunya yang bajunya orange

O : *&!##%$

A : lihat ini aku gambar Mama, Papa dan aku (gambar tidak berbentuk jelas)

O : Coba lihat. Lho gambar mu sendiri kok nggak ada kepalanya ?

A : Iya..kepalanya lagi copot…eh kok bisa ngomong ya sekarang ….

O : *&!##%$

A : Papa, kenapa di film-film itu orang kalau mau ML mesti masuk ke bawah selimut ?

O : *&!##%$

A : Pa, aku mau sekolah

O : (mode bangga on) wah bagus sekali nak

A : tapi aku mau sekolah di sekolah yang ada saljunya

O : *&!##%$

A : (Habis berbuat kesalahan) Ma, aku jangan dimarahin ya

O : (masih marah) Kenapa ?!

A : kasihan kan akunya kalau dimarahin terus

O : *&!##%$

A : (lagi buat PR) Pa, apa sih contoh-contoh disiplin di rumah ?

O : membawa piring ke dapur sehabis makan

A : Nggak ah..Papa nggak begitu…yang masukkin mbak

O : *&!##%$

Kalau Anda punya percakapan lain, silahkan tuliskan ya
Ini akan sangat menghibur

Bener dech

Memonitor Anak Yuk !

Ini kisah tentang seorang anak yang namanya sebut saja Martin. Duduk di kelas 2 SMP dan tergolong murid yang prestasi akademiknya sedang-sedang saja. Kedua orangtua Martin sibuk luar biasa. Keluarga ini tinggal di pinggiran kota Jakarta. Hal ini membuat kedua orangtua Martin harus berangkat pagi-pagi benar untuk tiba di kantor tepat waktu dan sampai rumah cukup larut karena harus menempuh macet berjam-jam di Jakarta.

Kondisi ini membuat mereka tidak dapat mendampingi anak secara maksimal. Akhirnya memang Martin kadang merasa seperti berjuang sendirian. Menggeluti persoalannya dengan pelajaran, relasinya dengan teman, bahkan dengan perkembangan emosinya. Masih untung Martin anak yang baik dan bisa dinasehati. Sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang parah. Namun orangtuanya berkeyakinan jika mereka dapat mendampingi, Martin akan berkembang secara lebih baik.

Dengan tidak bermaksud menghakimi, beberapa di antara kita pasti sangat familiar pada kisah di atas. Mungkin kita sendiri adalah pelakunya. Mungkin kita pernah lihat juga teman, adik, kaka, atau saudara sendiri kita yang mengalami hal itu. Harus diakui menjadi orangtua jaman sekarang memang tidak mudah (sebenarnya sejak jaman dulu juga nggak mudah ya..). Tuntutan ekonomi yang tinggi (biaya makan, sekolah, transportasi, dsb) membuat mau tidak mau kedua orangtua harus bekerja. Lokasi perumahan yang makin ke pinggir kota membuat waktu tempuh untuk tiba di kantor menjadi lama. Belum lagi stamina yang habis untuk menerjang kemacetan. Tuntutan di pekerjaan juga semakin tinggi. Seluruh kompetensi dicurahkan untuk menghasilkan kinerja terbaik. Dan layaknya orangtua manapun, mereka tetap menginginkan anaknya menjadi yang terbaik. Mungkinkah kita penuhi semua tuntutan itu ?

Mari kita coba menempatkan diri pada posisi anak-anak kita. Ada beberapa di antara anak kita mengalami tekanan dari kelompok mainnya di sekolah atau di rumah untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai. Anak-anak sekarang juga sangat terekspos dengan berbagai godaan di televisi (iklan konsumsi, tayangan aneh-aneh,, dsb). Belum lagi kalau kita bicara godaan di internet. Wah nggak gampang lho jadi anak sekarang.

Dengan semua kondisi ini, maka banyak orangtua yang memutuskan (dengan terpaksa saya kira) untuk melakukan monitoring dari jarak jauh terhadap anak. Monitoring dianggap salah satu solusi terbaik, meskipun juga bukan urusan yang mudah. Ada yang berhasil, ada juga yang tetap berjuang.

Sebenarnya apa sih monitoring itu ?
Ada yang mengatakan bahwa monitoring means establishing firm guidelines and limits for your child to keep track of what is going on in their social world. Kalau kita memperhatikan kata establishing ini, maka jelas bahwa untuk membangun hasil monitoring yang baik dibutuhkan banyak investasi (waktu, tenaga, emosi, dsb). Ini jelas bukan sebuah proses yang instant.

Kapan saat yang tepat untuk melakukan monitoring ?
Upayakan untuk membangun komunikasi sejak dini. Proses monitoring sebenarnya melibatkan banyak aktivitas komunikasi interpersonal. Misalnya bagaimana kita bisa mendapat informasi tentang anak kita, tanpa anak merasa diinterogasi. Ini membutuhkan proses yang panjang untuk bisa sampai pada sebuah kondisi mampu saling memahami cara komunikasi masing-masing pihak. Misalnya : anak tahu kalau ibu bertanya dengan nada tertentu, itu bukan marah, tapi memang ingin tahu. Ibu tahu kalau anak menampilkan ekspresi wajah tertentu, maksudnya apa, dsb. Dengan saling memahami hal ini, maka monitoring bisa berjalan lebih mulus.

Apa saja yang perlu dimonitor dari anak ?
Dari wawancara dengan beberapa orang tua, dikemukakan ada 4 sektor yang biasa diperhatikan oleh para orangtua. Pertama adalah pergaulan sosial. Apa yang dilakukan sepulang dari sekolah bersama teman-temannya, kemana mereka pergi, apa yang dilihat, suka lagu apa, gimana liriknya, suka film apa, dsb. Salah pergaulan bisa membawa risiko besar

Berikutnya adalah urusan belajar si anak. Apakah PR atau project sudah selesai dikerjakan, apakah materi pelajaran sudah dimengerti, apakah ada tugas khusus yang harus disiapkan (misal harus bawa peralatan rotring 0,3 mm, penggaris busur, cairan kimia, dsb), bagaimana aktivitasnya di ekstrakurikuler, bagaimana intrakurikulernya, dsb.

Selanjutnya adalah monitoring terhadap penggunaan internet. Harus diakui bahwa internet memang menyediakan banyak sekali informasi dan tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan. Banyak orangtua yang ingin tahu anaknya browsing situs apa saja, apakah anak kita kebanyakan main game on line, chatting dengan siapa dan sebagainya. Hal lain juga menjadi sasaran monitoring orangtua adalah terkait masalah kesehatan anak. Apakah dia cukup makan, cukup tidur, sehat atau tidak, dsb.

Bagaimana cara monitoring ?
Selalu update diri Anda dengan berbagai perkembangan terkini. Jika anak ikutan FB, jangan sampai kita sebagai orangtua justru tidak punya alamat email. Berusahalah menjadi seperti teman dengan anak dalam proses komunikasi anak-orangtua (nada suara, jenis pertanyaan, penyampaian alasan, posisi psikologis, dsb). Berikut ini adalah beberapa tips untuk monitoring pergaulan sosial anak :
o Plan
Sedapat mungkin membicarakan rencana esok hari bersama anak. Tetap fleksibel untuk perubahan, dengan syarat dilaporkan
o Detail
Tanyakan tentang rencana kegiatan anak secara lebih detail (mau kemana, mau ngapain, dengan siapa, kapan jam berapa, kapan akan pulang, dsb). Gunakan prinsip reward and punishment di sini.
o Contact
Lakukan kontak secara wajar dengan anak. Jika kebetulan memberi HP pada anak, buat aturan : dinyalakan di luar jam sekolah, balas segera sms yang masuk dari kita.
o Acknowledge
Kenali siapa saja teman-teman dekatnya, siapa orangtuanya, ajak teman anak main ke rumah (ajak terlibat dalam acara di rumah, dsb). Pengenalan dapat dilakukan jika kita jemput sedikit lebih awal, untuk lihat pergaulan teman-teman anak kita.

Untuk membantu memonitor belajar anak mudah-mudahan tips berikut bisa membantu :
- Biasakan menelpon setiap hari dari kantor untuk ngobrol dgn anak dan menanyakan hal-hal terkait pelajaran
- Buat jadwal bersama yang disepakati anak dan orangtua (jam berapa belajar, jam berapa main, jam berapa tidur, dsb)
- Gunakan pendekatan target dan reward. Misal : hari ini PR Inggris untuk tugas reading assignment harus selesai jam 6.45, setelah itu baru boleh nonton acara ekstravaganza. dengan bintang tamu Mr Bean.
- Koordinasi dengan pengasuh atau siapapun yang ada di rumah, dan minta anak untuk mengikuti petunjuk pengasuh.

Jangan lupa, bahwa sebagai orangtuapun kita perlu juga bersedia untuk dimonitor oleh anak kita. Be there when they need us. Selamat memonitor.