Wednesday, March 18, 2009

Mari Membantu Anak Mengatasi Kemalasan

Rabu 18 Maret 2009

Kalau Anda punya anak, pasti pernah mengalami situasi dimana anak-anak mengajukan berbagai macam alasan untuk menghindari ajakan Anda mengerjakan sesuatu, khususnya dalam belajar. Beragam keluhan diajukan. Mulai dari badan yang lemas, tidak mengerti pelajarannya, masih kepingin main, wah pokoknya macam-macam dech. Menghadapi situasi seperti itu biasanya yang langsung muncul di kepala para orangtua adalah anak saya malas.

Atas nama masa depan anak, kedisiplinan sampai dengan harga diri, maka orangtua mulai mengeluarkan jurus-jurusnya untuk membuat anak mau mengatasi keengganannya itu. Dimulai dengan membicarakannya secara baik-baik kepada anak, dan jika ternyata tidak mempan juga, terpaksa keluarlah jurus pamungkas. Namanya jurus Orangtua Berkuasa. Pada tahap ini orangtua memarahi anak dan memaksa anak untuk belajar. Orangtua yang sudah lelah dengan beban pekerjaan kantor menjadi cepat sekali naik darah. Ancaman biasanya menyertai situasi ini. Awas, kalau tidak buat PR, tidak dikasih uang jajan, atau nggak boleh main, atau nggak dibeliin mainan lagi, atau nggak dikasih pulsa lagi, dsb.

Di sisi lain anak juga punya pendapat sendiri. Mereka kehilangan motivasi untuk belajar karena memang sudah kehilangan minat pada pelajaran tersebut sejak awal. Banyak faktor yang membuat mereka seperti itu. Ada karena guru yang mengajar tidak enak, ada yang karena pelajaran tersebut kebanyakan aturannya, ribet, ada karena penyampaian pelajarannya nggak asyiik (ceramah satu arah), dan sebagainya. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sudah sangat tegang dan penuh konsentrasi di sekolah, sehingga kepingin melepaskan ketegangan dulu di rumah. Setelah itu baru belajar lagi. Tapi ada juga yang terus terang mengatakan bahwa program acara di televisi jauh lebih menarik daripada belajar. Main sama teman jauh lebih menyenangkan daripada belajar.

Pada titik inilah anak dan orangtua sering berkonflik. Anak merasa orangtua tidak memahami dirinya, sementara orangtua merasa anak kurang disiplin dan bermalas-malasan. Situasi bisa makin memburuk manakala ada pembanding (entah adik atau kakak yang lebih rajin) dan hasil rapor tidak memuaskan.

Kenapa Malas ?

Wah… seru ya … tapi nyeremin juga. Sebenarnya, apa sih yang membuat seorang anak tidak antusias untuk belajar ? Dari berbagai sumber diketahui ada faktor internal dan faktor eksternal yang bisa membuat seorang anak jadi terlihat malas. Faktor internal yang ada di dalam diri anak sendiri misalnya minat. Bisa jadi sejak awal anak memang tidak terlalu berminat pada angka dan lebih suka pada olahraga dan musik. Atau dia lebih berminat pada fisika daripada kimia. Faktor internal yang lain misalnya mood dan ritme biologis. Ritme biologis tiap orang memang berbeda-beda. Bisa terjadi bahwa ritme biologis anak tidak sama dengan ritme biologis orangtuanya. Jadi tidak pernah klop. Faktor internal lain yang bisa mempengaruhi adalah adanya perasaan tidak seimbang yang dirasakan oleh anak. Misalnya si anak merasa bahwa waktunya bersama orangtua sangat kurang karena orangtua sangat sibuk. Jadi mereka kadang-kadang menunda belajar sebagai salah satu cara untuk bisa berlama-lama dengan orang tuanya.

Faktor eksternal yang bisa membuat seorang anak malas melakukan sesuatu misalnya adalah ketiadaan role-model. Seorang anak bisa saja bertanya :

mengapa saya harus belajar, sementara kakak saya tidak ?

kenapa saya harus buat PR sementara anak tetangga bisa keluyuran ?

Dalam hal ini ketiadaan role-model lalu dikaitkan juga dengan gugatan terhadap rasa keadilan.

Faktor eksternal lain yang kerap disampaikan anak-anak adalah ketiadaan imbalan (reward). Dalam hal ini orangtua menganggap bahwa jika anak belajar, maka hal itu sudah sewajarnya. Kalau jadi anak, ya memang sudah seharusnya belajar. Akhirnya mereka tidak merasa perlu untuk memberikan penghargaan pada anak. Di sisi anak, mereka berharap ada perhatian dari orangtua bila mereka sudah tidak malas lagi. Karena tidak dapat, akhirnya kembali ke perilaku lama lama.

Ada juga anak yang menjadi malas karena obyek yang akan dipelajari memang sama sekali tidak menarik minatnya sejak awal. Ada anak yang sangat tidak berminat dengan pelajaran bahasa Indonesia. Dia merasa pelajaran ini sungguh menyusahkan karena untuk menjawab pertanyaan : Mengapa kita perlu memperhatikan lingkungan ? saja harus diawali dengan kata : Kita perlu memperhatikan lingkungan karena ….

Wah kalau hal yang harus dipelajari memang tidak menarik, susah juga ya.

Bagaimana Mengatasinya ?

Dari beberapa literatur tentang Belajar (learning) yang pernah saya baca, tampaknya masih ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh kita (para orangtua) untuk membantu anak mengatasi persoalan malasnya.

Beberapa yang dapat dilakukan adalah :

1. Penciptaan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan

Di era saat ini, rasanya sulit bisa mengharapkan anak-anak duduk tekun di belakang meja di rumahnya sambil belajar, latihan mengerjakan soal atau membuat PR. Suasana perlu dibuat agar lebih rileks dan dinamis, bukan kaku dan menegangkan.

2. Menata lingkungan fisik tempat belajar anak

Hal ini dapat dilakukan dengan memasang gambar warna-warni, tulisan-tulisan motivasional, menyediakan sarana untuk memutar musik, bahkan jika perlu kita dapat menggunakan aroma terapi (dengan wangi lemon) untuk membuat anak siap belajar

3. Bila ingin menyampaikan suatu materi, hendaknya para orangtua tidak langsung memberikan isi pelajarannya, tapi disarankan untuk menggunakan pendekatan belajar melalui pengalaman. Misal untuk mengenal jenis-jenis daun-daunan, bisa anak dibawa ke kebun dan diajak untuk mengenal daun-daun yang ada di kebun, minta mereka mengingatnya lalu menggambarkannya sendiri. Cara ini akan lebih menarik buat anak ketimbang ia harus memandangi buku di meja belajarnya.

4. Proses belajar tidak akan pernah bisa dilepaskan dari interaksi yang terjadi antara pengajar dengan yang belajar. Ciptakan relasi yang akrab dengan tetap menjaga respek kepada anak-anak kita. Tunjukkan bahwa berhasil atau gagal dia dalam proses belajarnya kita tetap menghargai usahanya untuk belajar. Berdialog lah dari hati-ke hati untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi dalam belajar dan bantu ia untuk menemukan jalan keluar bagi dirinya sendiri

5. Kenalilah anak Anda, mulai dari gaya belajarnya, ragam kecerdasannya, minatnya, dan lain-lain yang menurut Anda penting diketahui guna keberhasilan proses belajarnya.

Tips di atas disarikan dari materi pengajaran ala Quantum Learning. Riset di Amerika membuktikan bahwa pendekatan ini berhasil. Apakah ini juga bisa diterapkan di Indonesia ? Mari kita bersama-sama mencobanya. Selamat membantu anak untuk bisa mengucapkan selamat tinggal pada kemalasannya.

Salam.

Saturday, March 07, 2009

TUMBUH DENGAN AKAR

Pada suatu ketika saya membaca salah satu buku ensiklopedia anak-anak. Di dalamnya ada penjelasan tentang akar tumbuhan. Beberapa hal inti yang disampaikan misalnya saja bahwa akar itu tidak seindah daun atau bunga. Ia juga tidak berwarna-warni indah seperti mereka. Namun ia memiliki peran yang sangat penting. Ia bisa menunjang batang pohon dengan sangat kuat. Ia selalu berusaha mencari air dan mineral yang nantinya akan menjadi asupan bagi tanaman.

Dijelaskan pula bahwa akar memiliki dorongan mencari air yang sangat kuat sehingga ia mampu menjebol trotoar untuk mendekati air di sebuah hidran. Akar juga mampu menyesuaikan dirinya untuk masuk ke celah-celah kecil (mencari air di dalam relung-relung tanah) atau menghadapi kondisi iklim yang berbeda (mengakar pada batu karang di gunung bersalju). Tapi yang sungguh mengagumkan adalah ia bekerja dalam hening dan tidak terlihat dari luar.

Sampai sini terjadilah aha! Saya menemukan sebuah kebijaksanaan dari akar. Saya dituntun untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa manusia sebaiknya meneladani akar. Ada hal-hal yang sebaiknya ada pada manusia, yang dapat diakronimkan sebagai AKAR, yaitu Angan-angan, Konsistensi, Adaptif dan Rendah hati. Sebagai manusia kita bisa bertumbuh dengan memperhatikan AKAR kita.


A
ngan-angan
Agar hidupnya lebih terarah manusia disarankan untuk dengan sengaja memiliki angan-angan. Kemampuan menciptakan Angan-angan barangkali salah satu karunia yang dimiliki oleh manusia. Saya membayangkan bahwa akar sangat memahami apa yang ia inginkan dan bagaimana merealisasikan keinginan tersebut.

Coba perhatikan sekeliling kita saat ini. Banyak kenyataan yang berawal dari mimpi. Misalnya saja komunikasi via email, pergi ke bulan atau keajaiban internet sebagai perwujudan mimpi manusia untuk mengadakan komunikasi antar komputer.

Untuk itu beranilah berangan-anganlah sebelum di larang dan dikenai pajak !

Konsistensi
Jika anda telah memiliki angan-angan, maka tahap berikut untuk mewujudkan angan-angan itu adalah dengan berusaha secara konsisten. Perhatikan bahwa akar sangat konsisten untuk mewujudkan angan-angannya mencapai sumber air. Ia tidak menyerah walaupun kondisinya sulit. Komitmennya untuk mencari air sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan daun, bunga dan sebagainya membuatnya akan berusaha sangat keras untuk menemukannya.

Angan-angan yang tidak diikuti konsistensi untuk mewujudkannya tidak jauh berbeda dengan mimpi di siang hari bolong. Sayang sungguh sayang bahwa konsistensi ini juga mengharuskan kerja keras dan ketekunan. Hal-hal yang tidak terlalu disukai oleh kebanyakan penghuni planet bumi. Tapi kebanyakan orang berhasil ternyata memiliki kualitas ini.

Konsistensi juga dapat menjadi salah satu bentuk pengujian terhadap angan-angan kita. Jika kita tidak cukup konsisten, maka kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah angan-angan tersebut memang sungguh-sungguh kita inginkan atau tidak. Bandingkan dengan akar bahwa konsistensi mencari air dan mineral memang sungguh-sungguh dilakukan tanpa kenal menyerah.

Adaptif
Akar mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat hebat. Ia bisa membuat dirinya menjadi sangat kecil untuk masuk ke celah-celah tanah dalam rangka mencapai sumber air. Akar juga sanggup bekerja di pegunungan bersalju dengan menancap pada karang dengan sangat kuat untuk melindungi tanaman dari angin.

Dalam perziarahan di dunia ini, manusia kerap dihadapkan pada situasi-situasi dimana ia harus (mau tidak mau) melakukan adaptasi terhadap berbagai hal di lingkungannya agar bisa bertahan. Namun kerap kita menemukan diri kita tidak mau atau tidak mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan dalam rangka mencapai angan-angan kita.

Kemampuan untuk melakukan adaptasi pada hakekatnya sebenarnya merupakan upaya pemecahan masalah, dimana kita memilih salah satu alternatif yang dianggap paling baik, berdasarkan pengenalan kita akan berbagai kondisi internal dan eksternal, termasuk asumsi-asumsi yang ada di dalamnya.

Rendah hati
Akar dengan sangat mengagumkan telah menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Dengan menyandang peran yang begitu besar dan penting ia bekerja tanpa banyak bicara, tidak perlu menampilkan diri. Tapi semua orang tahu bahwa jika ingin menghabisi sebuah tumbuhan, harus dihabisi sampai ke akar-akarnya.

Spirit seperti ini yang perlu dikembangkan dalam proses pengembangan diri, dimana seseorang tetap mampu merasa ada yang belum berkembang dalam dirinya dan mau menerima berbagai informasi secara terbuka. Hanya dengan memiliki kerendahan hati, seseorang akan mengalami sebuah proses pengembangan yang berkesinambungan.

Perasaan cepat puas dan merasa pendapat saya yang paling benar memang merupakan pagar pembatas yang sesungguhnya kita ciptakan sendiri, dan kadang-kadang kerap diperkuat oleh lingkungan.

Dengan demikian, jika kita ingin terus mengembangkan diri Anda, anak Anda atau siapapun orang-orang yang Anda cintai, ikutilah teladan akar. Sekian dulu pemaparan tentang tumbuh meneladani AKAR, yang rasanya masih bisa dikembangkan lebih jauh sebagai konsep dasar dalam proses pengembangan diri.