Tuesday, March 31, 2009

Film Sebagai Sarana Untuk Berkomunikasi Dengan Anak

Pada suatu ketika saya sangat ingin menunjukkan suatu film yang berjudul Mama Mia pada istri saya . Kebetulan saya nonton film itu di pesawat, dan menurut saya film itu sangat bagus. Setelah cari kesana kemari, akhirnya saya berhasil meminjam DVD-nya. Namun karena sibuk dengan urusan anak, maka sulit sekali mencari kesempatan untuk nonton bareng. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tibalah. Suatu siang, ketika anak-anak sedang istirahat tidur, maka kami menonton film tersebut. Tengah asyik nonton, tiba-tiba si sulung terbangun dan ikutan nonton. Tiba-tiba ia bertanya : Pa, kok bisa dia nggak tahu Bapaknya siapa ? Bapaknya tiga ya , kok bisa begitu ?. Aduuh padahal filmnya lagi tanggung banget, tapi pertanyaaan anak saya itu mengingatkan saya bahwa film ini bukan untuk anak-anak. Langsung DVD kami matikan dan coba tanamkan pengertian pada anak.

Di titik ini saya menyadari bahwa film bisa menjadi sebuah titik temu antara orangtua dengan anak. Saya sadar bahwa film bisa menjadi sebuah media untuk menanamkan nilai-nilai (values) tertentu. Setelah itu terpikir, bagaimana jika film justru kita manfaatkan untuk menjadi sarana komunikasi dengan anak. Bagaimana melalui film kita bisa menanamkan nilai pada anak.

Di kalangan orangtua memang berkembang sejumlah asumsi bahwa media (khususnya film televisi) bisa memberi pengaruh negatif pada anak. Dan terus terang hal ini menimbulkan kebingungan bagi para orangtua. Masa iya anak tidak boleh nonton TV sama sekali, atau apa iya saya harus terus menerus mendampingi anak menonton (kapan kerjanya), rating yang diberikan di TV itu bener nggak sih (katanya semua umur, tapi kok ada adegan sadisnya).

Ada sebuah penelitian yang dilakukan Anwas (2009) bahwa media bisa memberi pengaruh negatif pada anak, tapi bisa juga tidak berpengaruh apa-apa. Dia menemukan bahwa ada anak-anak yang mutu kehidupannya rendah, ternyata sangat rawan terhadap pengaruh buruk televisi. Sementara anak yang berasal dari keluarga harmonis lebih memiliki benteng atau penangkal dalam menghadapi pengaruh buruk media. Yang dimaksud dengan keluarga harmonis disini adalah keluarga yang memegang teguh nilai, etika dan moral, dimana orangtua benar-benar menjadi panutan anaknya. Rupanya di keluarga ini, nilai yang ditanamkan pada anak akan berfungsi sebagai filter untuk menyikapi berbagai pengaruh negatif. Dengan demikian, proses memaknai pesan (yang diterima dari media) akan melalui saringan-saringan nilai yang telah ada sebelumnya. Mengacu pada hasil riet ini, tampaknya penanaman nilai sejak dini memang menjadi syarat yang sulit untuk ditolak kalau kita ingin membantu anak menangkal pengaruh negatif dari media, khususnya film dan televisi.

Harus diakui bahwa media, khususnya televisi memang telah menjadi semacam orangtua kedua bagi anak. Ada yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama televisi daripada bersama orangtuanya. Tayangan di televisi dan film bisa menjadi sarana mereka untuk berbagi cerita dengan temannya, mencari tahu trend model pakaian, potongan rambut, model sepatu, cara bicara, dan lain-lainnya. Menonton juga bisa menjadi sarana pelepas stres setelah menjalani 'siksaan' di sekolah (uuuh dasar anak-anak). Tontonan juga bisa menjadi sarana untuk pencarian identitas dan pembentukan kepribadian anak. Banyak anak yang terinspirasi ingin menjadi seperti Lintang setelah menonton film Laskar Pelangi. Yang berbahaya adalah anak menonton (TV atau bioskop) karena sudah tidak ada lagi orang yang bisa diajak berkomunikasi (orangtua bekerja, mbak tidur, sibuk, dsb). Di sini tontonan sudah menjadi sarana pelarian (kasihan sekali dikau nak).

Bagaimana kita sebagai orangtua bisa menjadikan film sebagai sarana komunikasi dengan anak ? Pertama-tama jelas kita harus mengetahui film mana yang layak ditonton oleh anak mana yang tidak. Bagaimana caranya ? Paling aman adalah kalau anda sendiri yang duluan menonton filmnya. Tapi mungkin sekali Anda tidak sempat menyaksikan film tersebut. Kalau terjadi seperti ini, orangtua bisa saja membaca resensinya terlebih dahulu. Atau bisa juga referensi dari orang lain, lihat rating guidenya (apakah semua umur, perlu pendampingan orangtua, dsb). Hal ini penting untuk mengetahui apakah film tersebut memuat nilai-nilai yang sesuai dengan apa yang telah kita tanamkan pada anak kita.

Jika Anda memang ingin menjadikan film sebagai sarana untuk membangun komunikasi dengan anak, maka inisatifnya perlu datang dari kita. Jangan sampai anak meminta ijin untuk nonton kepada Anda. Andalah yang mengajak dia nonton. Atau boleh juga dia nonton dengan teman-temannya. Anak yang sudah menjelang dewasa kerap merasa risih pergi nonton bersama orangtuanya. Mereka takut dicela teman-temannya. Kalau Anda tetap mau nonton bareng dia, cobalah juga menjadi sahabat bagi teman anak kita.

Setelah nonton kita bisa mulai membahas film tersebut. Tentu saja diawali dengan pertanyaan yang ringan-ringan seperti : eh menurut kamu yang main tadi ganteng gak, suka nggak dengan filmnya, ceritanya oke nggak ? dan seterusnya. Sampai pada pertanyaan yang agak dalam, personal dan terkait dengan nilai yang mau kita tanamkan. Misalnya saja sehabis nonton film Naruto. Anda bisa bertanya : Nak, menurut kamu untuk jadi ninja yang jago kayak Naruto musti bagaimana ? Nonton X-Men : menurut kamu, apa ya rasanya jadi orang yang berbeda dari orang normal, gimana kalau yang nggak normal itu temen kamu, atau kamu sendiri ?

Tujuan dari diskusi ini adalah untuk memunculkan insight dari anak. Jadi jangan sampai diskusi ini menjadi arena penasehatan oleh orangtua ke anak. Keterampilan untuk mengajukan pertanyaan dan mendengarkan informasi dari anak menjadi hal yang sangat penting di sini.

Film televisi atau bioskop bisa menjadi bahan pembicaraan orangtua dengan anak yang sangat mengasyikkan. Saling berbagi dan bercerita juga bisa memperkuat kedekatan anak dengan ortu. Jadilah sahabat buat anak then u will win their heart.

Salam


Thursday, March 26, 2009

Menyekolahkan Anak Ke Luar Negeri ?

Banyak sekali anak-anak (mungkin juga termasuk anak-anak kita) yang sangat ingin bersekolah ke luar negeri. Jaman saya dulu, kalau bisa nerusin sekolah ke luar negeri berarti keren banget, dan pasti orangtuanya tajir abiz. Tapi ada juga orangtua yang tidak mau menyekolahkan anaknya keluar negeri, dengan berbagai alasan.

Beberapa orang juga bertanya kepada saya, kenapa sih para orangtua sampai berpikir untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri ? Bukannya sekolah ke luar negeri itu mahal ? Pertanyaan ini membawa lagi pada sebuah pertanyaan apakah biaya adalah satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyekolahkan anak ke luar negeri ? Ada faktor lain kah ?

Penasaran dengan hal ini, saya lalu melakukan bincang-bincang dengan beberapa orang tua serta mencari berbagai tulisan yang terkait dengan sekolah ke luar negeri. Dan ini hasilnya.

Dari membaca sebuah sumber (Tempo, 2008) saya baru tahu bahwa untuk urusan mengirimkan pelajar ke luar negeri, tampaknya Indonesia memang ketinggalan. Cina misalnya. Di bawah pimpinan Deng Xiao Ping, setiap tahun mereka membiayai dan mengirimkan 5.000-10.000 mahasiswa untuk belajar di Eropa (di antaranya Inggris), Amerika Serikat, dan Kanada. Malaysia setiap tahun pemerintahnya mengirim 50.000 calon doktor, antara lain ke Inggris dan Amerika Serikat. Bayangkan bahwa Malaysia yang hanya berpenduduk 20.000.000 jiwa itu mengirim sebanyak itu setiap tahunnya. Indonesia dengan jumlah penduduknya 200.000.000 jiwa, rata-rata ada setahun ada 10.000 orang yang melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri, dan sebagian besar dengan biaya sendiri, bukan beasiswa dari pemerintah. Tak mengherankan bila mahasiswa Indonesia yang belajar di AS tak sampai 20 ribu orang per tahun, sedangkan mahasiswa Jepang tercatat 460 ribu orang. setiap tahun pemerintahnya mengirim 50.000 calon doktor, antara lain ke Inggris dan Amerika Serikat. Bayangkan bahwa

Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang lain lagi, ternyata ada sejumlah alasan yang mendasari kenapa mereka mengirim anak-anaknya ke luar negeri. Terus terang saja beberapa di antara mereka berasumsi bahwa kualitas pendidikan di dalam negeri sudah tidak memadai lagi. Mereka khawatir nanti anaknya tidak bisa bersaing dengan tenaga kerja lain dari berbagai negara.

Ada juga orangtua lain yang mengkhawatirkan tentang situasi sosial politik Indonesia yang dinilai tidak stabil. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran sekolah anak-anak. Jangan sampai di tengah-tengah masa kuliah tiba-tiba berhenti, kasihan si anak.

Alasan lain yang juga dikemukakan adalah karena tidak adanya jurusan-jurusan yang diinginkan. Misalnya ada yang ingin sekolah di jurusan yang sangat spesifik (nano genetika misalnya) dan di Indonesia tidak ada yang membuka jurusan tersebut. Maka mereka akan memilih sekolah ke luar negeri. Meskipun ada orangtua yang mengirimkan anak karena peer pressure (teman-teman orangtua menyekolahkan anak ke luar negeri juga, atau anak-anak temannya ke luar negeri), ternyata pembukaan wawasan juga menjadi suatu pertimbangan untuk mengirim anak sekolah ke luar negeri. “Supaya tidak cupet !” kata beberapa orangtua.

Kemudian hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan dalam mempersiapkan anak sekolah ke luar negeri ?

Tentu saja yang pertama adalah biaya pendidikannya. Banyak orang yang cuma mengeluh bahwa biaya pendidikan tinggi, tapi mereka tidak pernah benar-benar berhitung. Sebagai gambaran saja untuk sekolah di S-1 di Australia dibutuhkan dana sekitar 60 jutaan per tahun, sementara di Amerika sebesar paling sedikit 100 juta setahun (Tempo, 2008). Untuk mengatasi masalah biaya pendidikan ini, bisa dilakukan berbagai cara. Misalnya dengan mempersiapkan dana pendidikan, menabung secara rutin setiap bulan, investasi, asuransi pendidikan (untuk menjamin), dsb. Yang jelas, sejak awal perlu ditentukan target yang ingin dicapai berapa. Biaya yang perlu disiapkan bukan hanya dana pendidikan, tapi juga biaya hidup di sana.

Selain biaya, ada hal lain yang juga penting untuk disiapkan, yaitu mental. Mental di sini tidak hanya mental anak, tapi juga mental orangtuanya. Anak harus siap untuk hidup mandiri, lepas dari orangtua dan mbaknya. Beberapa orang yang pernah sekolah di luar negeri bercerita bahwa mereka harus beradaptasi dengan banyak hal, seperti bagaimana memotivasi diri sendiri, bagaimana mengatasi perasaan yang muncul kalau mendapatkan kegagalan pada saat ujian, bagaimana mengatasi home-sick, bagaimana mengatasi tekanan dari teman-teman untuk tidak ikut aktivitas negatif, dsb.

Penguasaan keterampilan praktis sehari-hari juga diperlukan. Misalnya bagaimana menggunakan mesin cuci, microwave, menyiapkan masakan sederhana, bagaimana mengatur jadwal pribadi, bagaimana menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca, bagaimana menggunakan transportasi umum, pengenalan bahasa lokal setempat, dsb.

Orangtua juga perlu disiapkan. Beberapa orangtua sempat merasa kesepian karena ditinggal anaknya pergi sekolah. Akibatnya mereka sering sekali menelpon anaknya, dan akhirnya anak merasa tidak dipercaya.

Kapan sih saat terbaik untuk mengirimkan seorang anak ke luar negeri ?

Ada yang mengatakan setelah lulus SMA adalah waktu yang pas. Mereka sudah cukup dewasa untuk dilepas, dan lebih mudah untuk latihan mandiri. Tapi ada juga yang mengatakan kalau dikirimnya setelah SMA akan membuang waktu. Soalnya mereka harus ikut masa pembekalan dulu, dsb. Ada yang mengatakan setelah sekolah keluar negeri untuk ambil S2 saja. Sudah lebih established dan bakalan lebih terpakai dalam pekerjaaan.

Yang penting menyekolahkan anak ke luar negeri bukan untuk kepentingan orangtua, namun untuk anak. Sebagai orangtua jika kita ingin mengirimkan anak sekolah ke luar negeri, maka pertanyaannya adalah : are we sending them for the right reason ?

Selamat mempertimbangkan, and enjoy your long week end.




Wednesday, March 18, 2009

Mari Membantu Anak Mengatasi Kemalasan

Rabu 18 Maret 2009

Kalau Anda punya anak, pasti pernah mengalami situasi dimana anak-anak mengajukan berbagai macam alasan untuk menghindari ajakan Anda mengerjakan sesuatu, khususnya dalam belajar. Beragam keluhan diajukan. Mulai dari badan yang lemas, tidak mengerti pelajarannya, masih kepingin main, wah pokoknya macam-macam dech. Menghadapi situasi seperti itu biasanya yang langsung muncul di kepala para orangtua adalah anak saya malas.

Atas nama masa depan anak, kedisiplinan sampai dengan harga diri, maka orangtua mulai mengeluarkan jurus-jurusnya untuk membuat anak mau mengatasi keengganannya itu. Dimulai dengan membicarakannya secara baik-baik kepada anak, dan jika ternyata tidak mempan juga, terpaksa keluarlah jurus pamungkas. Namanya jurus Orangtua Berkuasa. Pada tahap ini orangtua memarahi anak dan memaksa anak untuk belajar. Orangtua yang sudah lelah dengan beban pekerjaan kantor menjadi cepat sekali naik darah. Ancaman biasanya menyertai situasi ini. Awas, kalau tidak buat PR, tidak dikasih uang jajan, atau nggak boleh main, atau nggak dibeliin mainan lagi, atau nggak dikasih pulsa lagi, dsb.

Di sisi lain anak juga punya pendapat sendiri. Mereka kehilangan motivasi untuk belajar karena memang sudah kehilangan minat pada pelajaran tersebut sejak awal. Banyak faktor yang membuat mereka seperti itu. Ada karena guru yang mengajar tidak enak, ada yang karena pelajaran tersebut kebanyakan aturannya, ribet, ada karena penyampaian pelajarannya nggak asyiik (ceramah satu arah), dan sebagainya. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sudah sangat tegang dan penuh konsentrasi di sekolah, sehingga kepingin melepaskan ketegangan dulu di rumah. Setelah itu baru belajar lagi. Tapi ada juga yang terus terang mengatakan bahwa program acara di televisi jauh lebih menarik daripada belajar. Main sama teman jauh lebih menyenangkan daripada belajar.

Pada titik inilah anak dan orangtua sering berkonflik. Anak merasa orangtua tidak memahami dirinya, sementara orangtua merasa anak kurang disiplin dan bermalas-malasan. Situasi bisa makin memburuk manakala ada pembanding (entah adik atau kakak yang lebih rajin) dan hasil rapor tidak memuaskan.

Kenapa Malas ?

Wah… seru ya … tapi nyeremin juga. Sebenarnya, apa sih yang membuat seorang anak tidak antusias untuk belajar ? Dari berbagai sumber diketahui ada faktor internal dan faktor eksternal yang bisa membuat seorang anak jadi terlihat malas. Faktor internal yang ada di dalam diri anak sendiri misalnya minat. Bisa jadi sejak awal anak memang tidak terlalu berminat pada angka dan lebih suka pada olahraga dan musik. Atau dia lebih berminat pada fisika daripada kimia. Faktor internal yang lain misalnya mood dan ritme biologis. Ritme biologis tiap orang memang berbeda-beda. Bisa terjadi bahwa ritme biologis anak tidak sama dengan ritme biologis orangtuanya. Jadi tidak pernah klop. Faktor internal lain yang bisa mempengaruhi adalah adanya perasaan tidak seimbang yang dirasakan oleh anak. Misalnya si anak merasa bahwa waktunya bersama orangtua sangat kurang karena orangtua sangat sibuk. Jadi mereka kadang-kadang menunda belajar sebagai salah satu cara untuk bisa berlama-lama dengan orang tuanya.

Faktor eksternal yang bisa membuat seorang anak malas melakukan sesuatu misalnya adalah ketiadaan role-model. Seorang anak bisa saja bertanya :

mengapa saya harus belajar, sementara kakak saya tidak ?

kenapa saya harus buat PR sementara anak tetangga bisa keluyuran ?

Dalam hal ini ketiadaan role-model lalu dikaitkan juga dengan gugatan terhadap rasa keadilan.

Faktor eksternal lain yang kerap disampaikan anak-anak adalah ketiadaan imbalan (reward). Dalam hal ini orangtua menganggap bahwa jika anak belajar, maka hal itu sudah sewajarnya. Kalau jadi anak, ya memang sudah seharusnya belajar. Akhirnya mereka tidak merasa perlu untuk memberikan penghargaan pada anak. Di sisi anak, mereka berharap ada perhatian dari orangtua bila mereka sudah tidak malas lagi. Karena tidak dapat, akhirnya kembali ke perilaku lama lama.

Ada juga anak yang menjadi malas karena obyek yang akan dipelajari memang sama sekali tidak menarik minatnya sejak awal. Ada anak yang sangat tidak berminat dengan pelajaran bahasa Indonesia. Dia merasa pelajaran ini sungguh menyusahkan karena untuk menjawab pertanyaan : Mengapa kita perlu memperhatikan lingkungan ? saja harus diawali dengan kata : Kita perlu memperhatikan lingkungan karena ….

Wah kalau hal yang harus dipelajari memang tidak menarik, susah juga ya.

Bagaimana Mengatasinya ?

Dari beberapa literatur tentang Belajar (learning) yang pernah saya baca, tampaknya masih ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh kita (para orangtua) untuk membantu anak mengatasi persoalan malasnya.

Beberapa yang dapat dilakukan adalah :

1. Penciptaan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan

Di era saat ini, rasanya sulit bisa mengharapkan anak-anak duduk tekun di belakang meja di rumahnya sambil belajar, latihan mengerjakan soal atau membuat PR. Suasana perlu dibuat agar lebih rileks dan dinamis, bukan kaku dan menegangkan.

2. Menata lingkungan fisik tempat belajar anak

Hal ini dapat dilakukan dengan memasang gambar warna-warni, tulisan-tulisan motivasional, menyediakan sarana untuk memutar musik, bahkan jika perlu kita dapat menggunakan aroma terapi (dengan wangi lemon) untuk membuat anak siap belajar

3. Bila ingin menyampaikan suatu materi, hendaknya para orangtua tidak langsung memberikan isi pelajarannya, tapi disarankan untuk menggunakan pendekatan belajar melalui pengalaman. Misal untuk mengenal jenis-jenis daun-daunan, bisa anak dibawa ke kebun dan diajak untuk mengenal daun-daun yang ada di kebun, minta mereka mengingatnya lalu menggambarkannya sendiri. Cara ini akan lebih menarik buat anak ketimbang ia harus memandangi buku di meja belajarnya.

4. Proses belajar tidak akan pernah bisa dilepaskan dari interaksi yang terjadi antara pengajar dengan yang belajar. Ciptakan relasi yang akrab dengan tetap menjaga respek kepada anak-anak kita. Tunjukkan bahwa berhasil atau gagal dia dalam proses belajarnya kita tetap menghargai usahanya untuk belajar. Berdialog lah dari hati-ke hati untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi dalam belajar dan bantu ia untuk menemukan jalan keluar bagi dirinya sendiri

5. Kenalilah anak Anda, mulai dari gaya belajarnya, ragam kecerdasannya, minatnya, dan lain-lain yang menurut Anda penting diketahui guna keberhasilan proses belajarnya.

Tips di atas disarikan dari materi pengajaran ala Quantum Learning. Riset di Amerika membuktikan bahwa pendekatan ini berhasil. Apakah ini juga bisa diterapkan di Indonesia ? Mari kita bersama-sama mencobanya. Selamat membantu anak untuk bisa mengucapkan selamat tinggal pada kemalasannya.

Salam.

Saturday, March 07, 2009

TUMBUH DENGAN AKAR

Pada suatu ketika saya membaca salah satu buku ensiklopedia anak-anak. Di dalamnya ada penjelasan tentang akar tumbuhan. Beberapa hal inti yang disampaikan misalnya saja bahwa akar itu tidak seindah daun atau bunga. Ia juga tidak berwarna-warni indah seperti mereka. Namun ia memiliki peran yang sangat penting. Ia bisa menunjang batang pohon dengan sangat kuat. Ia selalu berusaha mencari air dan mineral yang nantinya akan menjadi asupan bagi tanaman.

Dijelaskan pula bahwa akar memiliki dorongan mencari air yang sangat kuat sehingga ia mampu menjebol trotoar untuk mendekati air di sebuah hidran. Akar juga mampu menyesuaikan dirinya untuk masuk ke celah-celah kecil (mencari air di dalam relung-relung tanah) atau menghadapi kondisi iklim yang berbeda (mengakar pada batu karang di gunung bersalju). Tapi yang sungguh mengagumkan adalah ia bekerja dalam hening dan tidak terlihat dari luar.

Sampai sini terjadilah aha! Saya menemukan sebuah kebijaksanaan dari akar. Saya dituntun untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa manusia sebaiknya meneladani akar. Ada hal-hal yang sebaiknya ada pada manusia, yang dapat diakronimkan sebagai AKAR, yaitu Angan-angan, Konsistensi, Adaptif dan Rendah hati. Sebagai manusia kita bisa bertumbuh dengan memperhatikan AKAR kita.


A
ngan-angan
Agar hidupnya lebih terarah manusia disarankan untuk dengan sengaja memiliki angan-angan. Kemampuan menciptakan Angan-angan barangkali salah satu karunia yang dimiliki oleh manusia. Saya membayangkan bahwa akar sangat memahami apa yang ia inginkan dan bagaimana merealisasikan keinginan tersebut.

Coba perhatikan sekeliling kita saat ini. Banyak kenyataan yang berawal dari mimpi. Misalnya saja komunikasi via email, pergi ke bulan atau keajaiban internet sebagai perwujudan mimpi manusia untuk mengadakan komunikasi antar komputer.

Untuk itu beranilah berangan-anganlah sebelum di larang dan dikenai pajak !

Konsistensi
Jika anda telah memiliki angan-angan, maka tahap berikut untuk mewujudkan angan-angan itu adalah dengan berusaha secara konsisten. Perhatikan bahwa akar sangat konsisten untuk mewujudkan angan-angannya mencapai sumber air. Ia tidak menyerah walaupun kondisinya sulit. Komitmennya untuk mencari air sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan daun, bunga dan sebagainya membuatnya akan berusaha sangat keras untuk menemukannya.

Angan-angan yang tidak diikuti konsistensi untuk mewujudkannya tidak jauh berbeda dengan mimpi di siang hari bolong. Sayang sungguh sayang bahwa konsistensi ini juga mengharuskan kerja keras dan ketekunan. Hal-hal yang tidak terlalu disukai oleh kebanyakan penghuni planet bumi. Tapi kebanyakan orang berhasil ternyata memiliki kualitas ini.

Konsistensi juga dapat menjadi salah satu bentuk pengujian terhadap angan-angan kita. Jika kita tidak cukup konsisten, maka kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah angan-angan tersebut memang sungguh-sungguh kita inginkan atau tidak. Bandingkan dengan akar bahwa konsistensi mencari air dan mineral memang sungguh-sungguh dilakukan tanpa kenal menyerah.

Adaptif
Akar mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat hebat. Ia bisa membuat dirinya menjadi sangat kecil untuk masuk ke celah-celah tanah dalam rangka mencapai sumber air. Akar juga sanggup bekerja di pegunungan bersalju dengan menancap pada karang dengan sangat kuat untuk melindungi tanaman dari angin.

Dalam perziarahan di dunia ini, manusia kerap dihadapkan pada situasi-situasi dimana ia harus (mau tidak mau) melakukan adaptasi terhadap berbagai hal di lingkungannya agar bisa bertahan. Namun kerap kita menemukan diri kita tidak mau atau tidak mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan dalam rangka mencapai angan-angan kita.

Kemampuan untuk melakukan adaptasi pada hakekatnya sebenarnya merupakan upaya pemecahan masalah, dimana kita memilih salah satu alternatif yang dianggap paling baik, berdasarkan pengenalan kita akan berbagai kondisi internal dan eksternal, termasuk asumsi-asumsi yang ada di dalamnya.

Rendah hati
Akar dengan sangat mengagumkan telah menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Dengan menyandang peran yang begitu besar dan penting ia bekerja tanpa banyak bicara, tidak perlu menampilkan diri. Tapi semua orang tahu bahwa jika ingin menghabisi sebuah tumbuhan, harus dihabisi sampai ke akar-akarnya.

Spirit seperti ini yang perlu dikembangkan dalam proses pengembangan diri, dimana seseorang tetap mampu merasa ada yang belum berkembang dalam dirinya dan mau menerima berbagai informasi secara terbuka. Hanya dengan memiliki kerendahan hati, seseorang akan mengalami sebuah proses pengembangan yang berkesinambungan.

Perasaan cepat puas dan merasa pendapat saya yang paling benar memang merupakan pagar pembatas yang sesungguhnya kita ciptakan sendiri, dan kadang-kadang kerap diperkuat oleh lingkungan.

Dengan demikian, jika kita ingin terus mengembangkan diri Anda, anak Anda atau siapapun orang-orang yang Anda cintai, ikutilah teladan akar. Sekian dulu pemaparan tentang tumbuh meneladani AKAR, yang rasanya masih bisa dikembangkan lebih jauh sebagai konsep dasar dalam proses pengembangan diri.