Tuesday, September 29, 2009

Komunikasi dalam Mengajar

Dulu waktu saya jadi murid, guru saya yang banyak bicara sementara saya lebih banyak diam. Sekarang, dalam profesi sebagai pengajar di beberapa kelas pelatihan, mau tidak mau saya juga harus berbicara, terutama pada waktu menjelaskan sebuah konsep.

Rasanya masih segar dalam ingatan saya, sebuah peristiwa di masa SD dulu. Ada murid yang dilabel nakal oleh guru-guru. Begitu terkenal si murid ini akan kenakalannya, sehingga seringkali ia dituduh melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Murid-murid lain (kalau berani) juga dengan mudah menimpakan kesalahan pada dia. Guru-guru juga sudah memiliki prasangka pada murid tersebut. Dalam berkata-kata kepada murid tersebut, yang terdengar hanya larangan dan bentakan. Hampir tidak ada guru yang berkata manis pada dia. Anak itu akhirnya tinggal kelas.

Entah kenapa saya bersimpati pada murid tersebut. Saya kemudian tahu dia dari keluarga kurang mampu, ayahnya penjual kompor minyak tanah dan ibunya buruh cuci. Secara ekonomi memang tidak memadai karena saudaranya ada 5. Saya lalu ajak dia main ke rumah. Saya pinjami buku-buku yang sudah tidak diperlukan karena saya naik kelas. Dia berjanji akan mengembalikan setelah 1 tahun pelajaran. Saya juga punya beberapa kelebihan buku tulis, yang juga saya serahkan pada dia. Ternyata dia jago main gitar, dan bersedia mengajari saya.

Kami berbicara banyak hal. Sambil dia bernyanyi di pucuk pohon cemara, kadang-kadang saya membantunya memahami pelajaran, sesekali ibu datang membawa gorengan. Wah indah betul persahabatan saat itu. Dan saya menemukan bahwa teman saya ini ternyata mampu menyerap materi pelajaran dengan cepat. Hampir setiap hari kami bertemu. Dia selalu datang naik sepeda, dengan membawa gitar bikinan sendiri dan tas berisi buku pelajaran.

Di akhir tahun pelajaran, dia berhasil naik kelas dan masuk 3 besar. Semua orang termasuk guru-gurunya heran dengan prestasinya ini. Lalu dia benar-benar menepati janjinya mengembalikan buku setelah 1 tahun pelajaran lewat dan berkata bahwa dia senang dengan persahabatan ini. Untuk pertama kalinya menurut dia, ada orang mau berkomunikasi kepada dia secara positif. Tidak melarang, tidak berprasangka, mau menghargai dan menerima pendapat orang. Dan justru dengan cara seperti ini, dia mau mengubah dirinya.

Pada saat mendengar kata-katanya itu, saya sungguh-sungguh terharu dan menyadari sepenuhnya bahwa apa-apa yang kita ucapkan keluarkan dari mulut kita benar-benar seperti pedang bermata dua. Kata-kata kita bisa berakibat menghancurkan seseorang tetapi juga bisa membangun seseorang.

Sungguh sebuah pelajaran berharga yang bisa saya tangkap dan saya ingat-ingat betul sampai sekarang. Dan terbawa pada waktu saya harus mengajar di depan kelas. Ada orang bijak yang bilang bahwa kita bisa berjalan di sebelah kiri jalan atau di sebelah kanan jalan. Tapi kita tidak bisa berjalan di tengah jalan. Demikian pula akibat dari kata-kata kita. Bisa berakibat baik atau buruk terhadap seseorang dan tidak pernah berakibat setengah-setengah.

Kata kita pilihan kita. Kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah hasil dari sebuah proses yang tidak sederhana. Dalam menentukan kata apa yang akan dikeluarkan, ada ruang untuk memilih. Jadi kata yang keluar adalah pilihan kita sendiri.

Harus diakui kadang-kadang kita ’memilih untuk menyakiti’ lawan bicara kita. Kita sengaja menggunakan kata-kata yang kita tahu akan meyakiti hatinya, menjatuhkan harga dirinya, dan membuat dia terluka.

Harus diakui pula bahwa menggunakan kata-kata positif untuk tujuan baik bukan hal yang mudah. Jika ada orang berbuat salah atau mendapat hasil yang jelek, kita cenderung menyalahkan dan merendahkan. Pernah seorang teman mengomentari hasil rapor anaknya yang kebetulan jelek : Hey, that’s a silly things for a clever person like you.

Harus diakui pula bahwa kadang-kadang dalam peran sebagai pengajar, seperti ada kekuasaan atau otoritas lebih. Perasaan ini yang menggoda kita untuk mencela peserta didik yang bodoh (dasar tukang bengong kalau di kelas), menggunakan kata-kata yang meneror (masa gitu aja nggak bisaa…!!), mengancam (kalau kelas ini nggak bisa diam, akan dijemur semuanya !), atau menghukum (sekarang tuliskan : Saya memang anak bandel 100 x).

Mengingat dampak dari kata-kata kita sebagai pengajar terhadap anak didik, maka sebaiknya kita betul-betul memilih kata-kata yang tidak akan menghancurkan dia (bodoh, payah, dungu, keterlaluan, nggak pakai otak, dsb), tapi justru mendorong atau memacu dia (ayo kamu pasti bisa, sedikit lagi benar, jangan takut, wah hebat, semangat, dsb).

Bagaimana supaya kita bisa menggunakan kata-kata yang positif dalam mengajar ?

1. Persiapan
Persiapkan diri Anda sebaik-baiknya. Kuasai materi, kalau sempat latihan sebentar untuk membawakan di rumah.
2. 10 di dahi
Bayangkan Anda melihat angka 10 sebagai simbol kesempurnaan di dahi setiap peserta didik Anda. Ini akan membantu Anda mengubah cara pandang terhadap anak didik menjadi lebih positif, sehingga berakibat pemilihan kata akan lebh baik.
3. Big Me Big You
Tempatkan posisi psikologis Anda sejajar dengan peserta didik. Jangan merasa Anda lebih pandai atau lebih penting dari siapapun di kelas.Datanglah dengan mentalitas bahwa Anda juga ingin belajar. Dengan demikian Anda akan menghormati mereka dan akan memilih kata-kata yang pantas.
4. Dare to Fail
Jangan takut untuk gagal. Lebih penting memaknai proses belajar apa yang ada dari setiap kegagalan. Beri ruang pada murid untuk gagal. Dari sinila mereka akan belajar. Kalau mereka gagal, jangan dicela atau dimarahi. Ajak mereka menemukan dimana kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya
5. Rehearse rehearse and rehearse
Usahakan dalam pembicaraan sehari-hari (kepada teman, anak, kolega) menggunakan kata-kata positif. Hindari gosip dan membicarakan orang di belakang dia.

Meskipun berat, mari kita mencoba berkata-kata dengan tujuan yang baik kepada peserta didik kita. Mari memilih kata-kata yang positif. Karena akan baik untuk kita dan baik untuk mereka.

Salam